Tempatnya Belajar Ilmu Psikologi Secara Online

21 Januari 2019

Pengertian dan Contoh Interaksi Sosial dan Tatanan Sosial Menurut Para Ahli

Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik dalam kehidupan manusia, baik antara orang perorang, orang dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok. Karena itu interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Proses Interaksi sosial menurut Herbert Blumer adalah pada saat manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi manusia. Kemudian makna yang dimiliki sesuatu itu berasal dari interaksi antara seseorang dengan sesamanya. Dan terakhir adalah Makna tidak bersifat tetap namun dapat dirubah, perubahan terhadap makna dapat terjadi melalui proses penafsiran yang dilakukan orang ketika menjumpai sesuatu. Proses tersebut disebut juga dengan interpretative process.

Pengertian dan Contoh Interaksi Sosial dan Tatanan Sosial Menurut Para Ahli - Interaksi sosial bisa terjadi bila dua individu melakukan kontak sosial atau komunikasi. Karena dengan itulah orang bisa dikatakan melakukan sebuah interaksi. Kontak sosial merupakan tahap paling awal di dalam sebuah interaksi. Di tahap ini seseorang akan membutuhkan orang lain sebagai patner. Setelah seseorang melakukan kontak sosial tahap yang selanjutnya adalah komunikasi. Komunikasi adalah penyampaian informasi atau memberikan tanggapan. Dan setelah penyampain informasi atau tanggapan akan terjadi sebuah reaksi. Dan dari situlah tanpa di sadari seseorang telah melakukan sebuah interaksi.

Arnold W. Green menjelaskan interaksi sosial sebagai aktifitas yang saling mempengaruhi antar individu/kelompok dalam upayanya untuk memecahkan permasalahan dan merangkainya untuk mewujudkan tujuan-tujuan. Sebagai contoh Indonesia terdiri atas masyarakat yang kompleks dari segi budaya, golongan dan agama. Dengan adanya interaksi sosial, keharmonisan di dalam masyarakat dapat diciptakan. Interaksi ini ada yang tersturktur adapula yang tidak tersturktur. Interaksi terstruktur yakni pola hubungan yang telah memiliki aturan-aturan khusus, seperti di pengadilan, interaksi antara hakim dan pengacara sudah ada aturan-aturannya. Sedangkan interaksi yang tidak terstruktur yakni interaksi yang terjadi di lapangan/kehidupan sehari-hari yang tidak ada aturan bakunya. Interaksi sosail dapat terjadi antar orang perorangan, orang-perorangan dengan kelompok manusia maupun kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.
Pengertian dan Contoh Interaksi Sosial dan Tatanan Sosial Menurut Para Ahli_
image source: autism.lovetoknow.com

Adapun syarat-syarat terjadinya interaksi sosial yakni:

a. Adanya kontak sosial;

b. Adanya komunikasi (Soekanto, 2012).

Faktor Pendorong Interaksi Sosial

Berlangsungnya interaksi di dasarkan pada berbagai faktor, antara lain faktor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati.

Imitasi : Sikap meniru tindakan orang lain di mulai ketika dia masih bayi hingga ia berkambang dewasa. Sebagai contoh anak meniru perilaku seorang ayah. Proses imitasi dapat bersifat:

1) Positif, misalnya seseorang yang meniru sikap atau perilaku yang baik didalam masyarakat dan dia berusaha mempertahankannya.

2) Negative, kebalikan dari yang positif yaitu seseorang yang meniru sikap atau perilaku yang tidak baik atau menyimpang yang berlaku di masyarakat

Syarat yang haarus di miliki seseorang sebelum melakukan imitasi yaitu:

1) Minat dan perhatian yang cukup besar terhadap hal yang akan ditiru.

2) Sikap menjujung tinggi atau mengagumi hal-hal yang ingin ditiru

3) Hal yang akan ditiru mempunyai nilai social yang tinggi

Sugesti : Suatu proses di mana seorang individu menerima pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Sebagai contoh ketua kelas yang menyuruh teman yang lain untuk kerja bakti. Suatu sugesti akan mudah terwujud di dalam hal-hal berikut :

1) Jika kemampuan berpikir seseorang terhambat sesuatu.

2) Keadaan pikiran seseorang yang sedang terpecah belah dan ini cenderung mudah menerima sugesti.

3) Sugesti akan mudah terjadi bila seseorang yang memberi sugesti itu mempunyai otoritas atau mempunyai wibawa. Misalnya seorang pimpinan akan mudah di ikuti oleh karyawannya.

4) Mayoritas, di mana saat terjadi sugesti itu bukan hanya seorang saja tapi sebagian besar orang yang berada di situ.

Identifikasi : Merupakan keinginan seseorang yang cenderung untuk mempersamakan dirinya dengan orang lain. Dan proses tersebut terjadi dengan sendirinya atau secara sadar. Baik itu terjadi di dalam sifatnya, cara berpenampilan, ataupun berpakaian. Sebagai contoh seorang yang berusaha berpenampilan serupa dengan artis yang ia gemari.

Simpati : Simpati dapat di artikan sebagai perasaan tertariknya seseorang terhadap orang lain. Sebagai contoh laki laki yang sedang jatuh cinta dengan seorang wanita.

Faktor dan Peran
  1. Imitasi > Mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku
  2. Sugesti > Mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima pihak lain
  3. Identifikasi > Memungkinkan terbentuknya kerjasama dengan pihak lain
  4. Simpati > Memungkinkan terbentuknya kerjasama dengan pihak lain, didasari keinginan untuk memahami pihak lain

Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerjasama (cooperation), akomodasi, asimilasi, persaingan (competition) dan pertikaian (conflict).

a. Kerja sama

Kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok dan merupakan proses yang utama. Secara sederhana kerja sama diartikan ketika sekelompok orang bergabung/bekerja bersama-sama untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Kerjasama akan menghasilkan integrasi didalam kelompok/masyarakat. Kerja sama merupakan bentuk interaksi yang tidak begitu menarik perhatian para sosilog. Kerja sama ini ada bentuknya spontan (Spontaneous cooperation), langsung (directed coeepration), kontrak (contractual cooperation) dan kerjasama tradisional (traditional cooperation), yang terbagi dalam lima bentuk kerjasama :

1. Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong menolong;

2. Bargaining : pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-berang dan jasa-jasa antar dua organisasi atau lebih;

3. Kooptasi : proses penerimaan unsure-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersnagkutan;

4. Koalisi : kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi, karena maksud utama adalah untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnya adalah kooperatif.

5. Joint Venture : kerjasama dalam dalam pengusahaan proye-proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pertambangan batu bara, perfilman, perhotelan dll.

b. Akomodasi

Akmodasi merupakan aspek interaksi sosial yang diikuti konflik. Akomodasi merupakan terminology yang digunakan sosilog untuk menjelaskan sebuah proses adaptasi antara individu/kelompok yang bertentangan. Dalam akomodasi kerja sama dan konflik hadir disaat yang bersamaan. Beberapa sosilog seperti Summer menamakan akomodasi sebagai kerjasama antagonis. Semakin bersahabat sebuah lingkungan, semakin besar kemungkinan untuk bekerjasama, dan sebaliknya. Sebagai contoh, kehidupan Negro di masa perang sipil Amerika. Pada masa itu ada dua kelas budak yakni yang bekerja di lahan-lahan dan yang bekerja di rumah. Para budak yang bekerja di rumah-rumah memiliki status sosial yang lebih tinggi disbanding budak-budak yang bekerja di luar rumah/lahan-lahan. Budak-budak di rumah tangga memiliki status yang lebih tinggi karena terkait dengan fakta kedekatan mereka dengan majikan dan kemungkinan kecil dari mereka untuk pergi meninggalkan majikannya. Sehingga terbentuklah proses akomodasi seperti kebebasan, sub-ordinasi, kompromi, toleransi, konversi dsb.

Hasil dari akomodasi dalam masyarakat yakni:

1) Integrasi masyarakat;

2) Menekan oposisi;

3) Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda;

4) Perubahan lembaga-lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru;

5) Perubahan-perubahan dalam kedudukan;

6) Membuka jalan kea rah asimilas.

c. Asimilasi

Asimilasi merupakan bagian penting dari interaksi sosial, dimana individu atau kelompok mulai mengeliminiasi perbedaan dan lebih mengedepankan persamaan-persamaan, yang terideintifikasi melalui minat/kepentingan dan pandangan/harapan. Asimilasi merupakan sebuah proses dimana proses penyatuan individu dan kelompok dilakukan dengan berbagi pengalaman dan sejarah yang berkaitan dalam kehidupan budaya masing-masing individu/kelompok. Tidak selamanya asimilasi menciptakan kesetaraan (equality) antar individu/kelompok di dalam masyarakat.

Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya proses asimilasi:

1). Toleransi;

2). Kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi;

3). Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya;

4). Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa di masyarakat;

5). Persamaan dalam unsure-unsur kebudayaan;

6). Perkawinan campuran

7) Adanya musuh bersama dari luar.

d. Persaingan (Competition)

Persaingan merupakan proses sosial dimana individu dan auat kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui bidnag-bidang kehiduapn yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum. Kompetisi terjadi ketika muncul ketidakseimbangan bagi suplai kebutuhan utama manusia. W.H Hamilton menyampaikan bahwa bentuk dasar kompetisi adalah ketika kebutuhan populasi/kelompok masyarakat tidak terpuaskan dan dunia tidak memiliki persedian yang cukup untuk semua makhluk hidup.

Tipe-tipe persaingan:

1). Persaingan Ekonomi;

2). Persaingan Kebudayaan

3). Persaingan Kedudukan dan Peran

4). Persaingan Ras

e. Konflik

Terjadi ketika ada perbenturan kepentingan, baik objek kompetisinya maupun antar sesama kompetitor.

Tatanan Sosial (Social order)

Pada saat kita berbicara tentang tatanan sosial, ada beberapa konsep penting yang perlu didiskusikan yaitu tentang: struktur sosial, status sosial, peranan sosial, institusi sosial, serta masyarakat. Sebagian para ahli menganggap struktur sosial identik dengan penggambaran tentang suatu lembaga sosial, sebagian yang lain menggambarkan struktur sosial dengan istilah pranata sosial, bangunan sosial, dan lembaga kemasyarakatan.

Kita hidup dalam suatu lingkungan sosial yang bukan apa adanya. Lingkungan sosial tersebut mempunyai sejumlah prasyarat yang menjadikannya dapat terus berjalan dan bertahan. Prasyarat- prasyarat inilah yang kita sebut tatanan sosial (sosial order). Konsep tatanan sosial merupakan konsep dasar yang harus dipahami dengan baik oleh mereka yang mempelajari sosiologi. Karena konsep tatanan sosial ini terkait erat dengan konsep-konsep dasar lainnya. Apabila Anda memahami dengan baik konsep-konsep dasar ini, maka Anda akan dapat menganalisis fenomena sosial dengan baik.

Prinsip yang bisa kita ambil adalah adanya pengaturan dan ketertataan dari suatu lingkungan sosial. Atas dasar pemenuhan kebutuhan, individu-individu membentuk lingkungan sosial tertentu, di mana individu-individu tersebut saling berinteraksi atas dasar status dan peranan sosialnya yang diatur oleh seperangkat norma dan nilai. Suatu lingkungan sosial di mana individu-individunya saling berinteraksi atas dasar status dan peranan sosial yang diatur oleh seperangkat norma dan nilai diistilahkan dengan tatanan sosial (social order). Demikian juga dengan tatanan sosial. Semua persyaratan, antara lain adanya sejumlah individu, interaksi, status dan peranan, nilai dan norma serta proses harus terpenuhi sehingga tatanan sosial tersebut bisa tetap berlangsung dan terpelihara.

Struktur Sosial

Struktur sosial secara etimologis berarti susunan masyarakat. Struktur Sosial secara definitif merupakan skema penempatan nilai-nilai sosial-budaya dan organ-organ masyarakat pada posisi yang dianggap sesuai, demi berfungsinya organisme masyarakat sebagai suatu keseluruhan, dan demi kepentingan masing-masing bagian.

Pendekatan dalam Studi interaksi

Untuk mempelajari interaksi perlu pendekatan tertentu. Pendekatan tersebut di kenal dengan perspektif interaksionis (interactionist perspective). Ada beberapa pendekatan dalam studi terhadap interaksi.

a. Pendekatan yang terkenal adalah pendekatan interaksionisme sombolik yang bersumber dari pemikiran Herbert Mead. Interaksi yang mengacu pada symbol-simbol. Simbol adalah nilaiataumaknayamgdianugerahkan kepadamereka yangmenggunakannya. Pendekatan ini sudah banyak dibahas dalam pertemuan sebelumnya.

b. Definisi Situasi. Konsep lain yang perlu pula dikaji dan diberi perhatian adalah konsep definisi situasi.Biasa interaksi diartikan pemberian respon terhadap stimulus. Namun analisa situasi memahaminya berbeda. Setiap stimulus perlu mendapat definisi dan penafsiran terlebih dahulu, baru setelah itu dimunculkan respon. Misalnya pemberian salam seorang laki-laki yang belum di kenal terhadap seorang wanita. Maka perlu penafsiran lebih dulu itikadnya. Jika itikadnya baik, maka dijawab dengan baik. Konsep ini dikenalkan oleh W,I, Thomas.

Analisis terhadap definisi situasi dapat dilakukan dengan memahami aturan Interaksi. Definisi situasi yang dibuat masyarakat merupakan aturan yang mengatur interaksi.David A dan W.C.Yoels (dalam Sunarto,2000) menyebutkan tiga jenis aturan, yaitiu aturan mengenai ruang, mengenai waktu dan mengenai gerak atau sikap tubuh. Misalnya analisis terhadap aturan ruang Edwar T Hall. Dalam penelitiannya, Hall menjelaskan tentang aturan ruang dalam situasi social cenderung menggunakan empat macam jarak, yaitu jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial dan jarak publik. Jarak intim berkisar 0 – 18 inci (0-45 cm). Pada jarak ini terlibat semua tubuh, panca indra, penglihatan,bau badan sentuhan kulit dan hembusan nafas. Interaksi dalam jarak ini biasa dalam hubungan suami istri, seorang ibu menggendong anaknya atau dalam olah raga gulat. Anda mungkin pernah melihat seorang perempuan sedang bergerak menjauhi laki-laki. Ini berarti ia tidak mau dekat dengan laki-laki tersebut. Dalam arti lain ia tidak mau laki-laki itu berada dalam ruang intimnya. Kemudian jarak pribadi 18 -– 4 kaki (45 - 1,22 m), interaksi dalam jarak ini reaksi dan rangsangan panca indra mulai berkurang. Jarak social 4 – 12 kaki (1,2 -3,66 m) yang berinteraksi dapat berbicara secara normal tanpa menyentuh dan jarak public diatas 12 kaki/ 3,66 meter biasanya sesorang harus tampil di depan.

Cara lain untuk mendefinisikan situasi dilakukan dengan memahami komunikasi nonverbal. Menurut Hall dalam interaksi orang lain membaca perilaku kita, bukan apa yang kita katakan. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengamati orang dapat berkomunikasi tanpa menggunakan satu patah kata pun. Dengan menggunakan tangan atau gerak tubuh seperti memicingkan mata, menjulurkan lidah, mengangkat bahu, membungkukkan badan, mengacungkan tinju, mengacungkan ibu jari, mengerutkan dahi, mengagukkan kepala dll. Orang dapat menyampaikan perasaannya dengan komunikasi non verbal atau gerak tubuh (body language) seperti perasaan cinta, cemooh, ketidaktahuan, hormat, menantang, kagum, tidak senang, persetujuan. Ini berarti bahwa kita tidak dapat menggerakkan tubuh semau kita. Karena berbagai sikap tubuh dan gerak tangan kita diberi makna tertentu oleh masyarakat dan dijadikan petunjuk untuk mendefinisikan situasi.

c. Dramaturgi Goffman. Pernyataan paling terkenal Goffman tentang teori dramaturgis berupa buku Presentation of Self in Everyday Life, diterbitkan tahun 1959. Secara ringkas dramaturgis merupakan pandangan tentang kehidupan sosial sebagai serentetan pertunjukan drama dalam sebuah pentas. Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama atau teater atau pertunjukan fiksi diatas panggung dimana seorang aktor memainkan karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan.

Menurut Margaret Poloma, pendekatan dramaturgi (dramaturgy) didefinisikan sebagai pendekatan yang menggunakan bahasa dan khayalan teater untuk menggambarkan fakta subyektif dan obyektif dari interaksi.

Dramaturgi menekankan dimensi ekspresif/impresif aktivitas manusia, yakni bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka mengekspresikan diri dalam interaksi dengan orang lain yang juga ekspresif. Oleh karena perilaku manusia bersifat ekspresif inilah maka perilaku manusia bersifat dramatik.

Pendekatan dramaturgis Goffman berintikan pandangan bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamannya, ia ingin mengelola pesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya. Untuk itu, setiap orang melakukan pertunjukan bagi orang lain. Kaum dramaturgis memandang manusia sebagai aktor-aktor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peran-peran mereka.

Peran adalah ekspektasi yang didefinisikan secara sosial yang dimainkan seseorang suatu situasi untuk memberikan citra tertentu kepada khalayak yang hadir. Bagaimana sang aktor berperilaku bergantung kepada peran sosialnya dalam situasi tertentu. Focus dramaturgis bukan konsep-diri yang dibawa sang aktor dari situasi kesituasi lainnya atau keseluruhan jumlah pengalaman individu, melainkan diri yang tersituasikan secara sosial yang berkembang dan mengatur interaksi-interaksi spesifik. Menurut Goffman diri adalah “suatu hasil kerjasama” (collaborative manufacture) yang harus diproduksi baru dalam setiap peristiwa interaksi sosial.Goffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan pesan” (impression management), yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Goffman kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi “wilayah depan” (front region) dan “wilayah belakang” (back region). Wilayah depan merujuk kepada peristiwa sosial yang menunjukan bahwa individu bergaya atau menampilkan peran formalnya. Mereka sedang memainkan perannya di atas panggung sandiwara di hadapan khalayak penonton. Sebaliknya wilayah belakang merujuk kepada tempat dan peristiwa yang yang memungkinkannya mempersiapkan perannya di wilayah depan. Wilayah depan ibarat panggung sandiwara bagian depan (front stage) yang ditonton khalayak penonton, sedang wilayah belakang ibarat panggung sandiwara bagian belakang (back stage) atau kamar rias tempat pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan.

d. Tahap Interaksi. Mark L Knapp, memperkenal tahap yang dapat dicapai dalam interaksi yang ia bagi dalam dua kelompok besar, yaitu tahap yang mendekatkan peserta interaksi dan tahap yang menjauhkan. Tahap mendekatkan di rinci menjadi memulai (initiating), menjajaki (experimenting), meningkatkan (intensifying), menyatupadukan (integrating) dan mempertalikan (bonding).

Knapp juga menjelaskan tahap perenggangan, ia merinci menjadi tahap membeda-bedakan (differentiating), membatasi (circumscribinng), memacetkan (stagnating), menghindari (avoiding) dan memutuskan (termating.

Daftar Pustaka
- Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi: Suatu Pengantar: Jakarta: Rajawali Pers
- Sunarto, Kamanto, 2000, Pengantar Sosiologi, Jakarta, Lembaga Penerbit, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
- Mannheim, Karl, 1985, Systematic Sociology Terjemahan, Jakarta, Bina Aksara. Jakarta, Prenada Media.
- Poloma, M. Margaret, 2003, Sosiologi Kontemporer, terjemahan, Jakarta, Raja  Grafindo Persada.
Blog Psikologi_
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pengertian dan Contoh Interaksi Sosial dan Tatanan Sosial Menurut Para Ahli