Tempatnya Belajar Ilmu Psikologi Secara Online

30 November 2017

Macam-Macam Teori Sosiologi Menurut Para Ahli Beserta Contoh

Dialog pemikiran dalam mengembangkan teori-teori sosiologi melahirkan tiga teori sosiologi yang hegemonik. Tiga teori tersebut memiliki pengaruh yang besar terhadap pemikiran teori-teori sosiologi berikutnya.Teori tersebutadalah ;Struktural fungsional, konflik dan interaksionisme simbolik.

Pengertian dan Manfaat Teori sosial

Hakikat teori merupakan hubungan antara dua atau lebih, atau pengaturan fakta menurut cara-cara tertentu. Fakta tersebut merupakan sesuatu yang dapat diamati dan dapat diuji secara empiris (Sukanto,2013). Teori tersebut harus dirumuskan dalam bentuk abstraksi-abstraksi yang dapat mengambarkan keseluruhan konsepsi . Dalam konteks sosial, maka teori sosial dapat dirumuskan dalam bentuk abstraksi tentang dunia sosial. Karena itu, Neuman mendefinisikan Teori sosial sebagai sebuah sistem dari keterkaitan abstraksi atau ide-ide yang meringkas dan mengorganisasikan pengetahuan tentang dunia sosial.

Teori Sosial adalah “Seperangkat konsep dan preposisi yang menjelaskan fenomena sosial sehingga memilikimakna tertentu”, Teori bisa berbentukdeduktif, yaitupernyataan Umum yang dibuktikan dan Induktif, yaitu fakta-fakta yang membentuk pernyataan umum.

Macam-Macam Teori Sosiologi Menurut Para Ahli Beserta Contoh_
image source: umanitoba.ca


Macam-Macam Teori Sosiologi Menurut Para Ahli Beserta Contohnya - Teori sosial sangat bermanfaat dalam memahami realitas sosial. Teori Sosialmerupakan instrumen yang sangat penting untuk membaca realitas kehidupan manusia dalam interaksinya dengan sesama.Ia merupakan jendela untuk melihat realitas yang luas dan kompleks. Untuk menganalisis suatu masalah, teori sosial dapat digunakan menjadi pisau analisis dalam memahami masalah-masalah sosial. Ketika sesorang akan melakukan penelitian, maka harus menggunakan salah satu teori sosial untuk memahami realitas yang akan di teliti. Dengan adanya teori social, seseorang dapat menghimpun informasi yang lebih sistematik dan kemudian dapat memanfaatkannya dalam penelitian atau studi-studi tentang masyarakat.

Tiga Teori sosiologi

Ada tiga teori sosiologi yang sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu sosiologi. Teori ini membentuk paradigma dalam melihat masyarakat sebagai obyek studi sosiologi. Banyak teori-teori yang berkembang belakangan sangat berkaitan dengan tiga teori ini. Studi-studi yang dilakukan oleh ilmua sosiologi belakangan banyak dipengaruhi oleh tiga teori ini.Teori itu adalah Teori dengan paradigma Struktural Fungsional, teori dengan paradigma konflik dan teori dengan paradigma Interaksionisme Simbolik.

1. Paradigma Struktural Fungsional


Teori Struktural fungsional muncul dan berkembang karena dipengaruhi oleh semangat renaisance. Ia di warnai oleh munculnya revolusi pengetahuan terutama filsafat positivisme yang melahirkan ilmu alam seperti fisika, biologi dan kimia, sehingga argumentasi teori ini relatif mengambil inspirasi dari teori organis-sistemik. Pandangan ini muncul berkat pengandaian bagian-bagian tubuh manusia dalam suatu susunan organisme.

Dalam sejarahnya, Teori struktural fungsional ini sangat berpengaruh dalan perkembangan sosiologi terutama tahun 1960-an. Begitu berpengaruhnya, setidak-tidaknya selama dua dekade setelah perang dunia kedua studi sosiologi sangat di dominasi oleh teori ini, sehingga perspektif ini sangat identik dengan sosiologi itu sendiri (Zainuddin Maliki, 2003). Ketika orang berbicara sosiologi, maka asumsi orang mereka bicara tentang teori strukural fungsional ini.

Teori Struktural fungsional memiliki beberapa asumsi dasar dalam melihat masyarakat. Asumsi tersebut sebagai berikut;
  • Masyarakat harus dilihat sebagai suatu sistem yang kompleks, terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan saling tergantung, dan setiap bagian tersebut berpengarus secara signifikan terhadap bagian yang lain. 
  • Setiap bagian dari masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi penting dalam memelihara eksistensi dan stabilitas masyarakat secara keseluruhan, karena itu, eksistensi satu bagian tertentu dari masyarakat dapat diterangkan apabila fungsinya bagi masyarakat sebagai keseluruhan dapat di identifikasi. 
  • Semua masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengintegrasikan diri; sekalipun integrasi sosial tidak pernah tercapai secara sempurna, namun sistem sosial akan senantiasa berproses kearah itu. 
  • Perubahan dalam sistem sosial umumnya terjadi secara gradual, melalui proses penyesuaian, dan tidak terjadi secara revolusioner 
  • Faktor terpenting yang mengintegrasikan masyarakat adalah adanya kesepakatan diantara para anggotanya terhadap nilai-nilai kemasyarakatan tertentu. 
  • Masyarakat cenderung mengarah kepada suatu keadaan ekuilibrium atau homeostatis 

Dalam memahami masyarakat, teori struktural fungsional menggunakan strategi analisa. Menurut Parson, strategi dasarnya dalam pendekatan Struktural fungsional adalah :
  1. Mengidentifikasi persyaratan fungsional yang pokok dalam sistem yang sedang dipelajari
  2. Menganalisa struktur-struktur tertentu dengan mana persyarakatn fungsional itu terpenuhi. 

Parson menawarkan empat persyaratan fungsional yang dibahasakannya melalui skema A G I L, yaitu,Adaptation, Goal Attainment, Integrationdanlatent Pattern Maintenance(AGIL).

1. Adaptation (adaptasi)

Menunjuk pada keharusan sistem sosial untuk menghadapilingkungannya. Dengan persyaratan ini, semua sistem sosial mulai dari hubungan dua orang sampai dengan sistem sosial yang besar dan kompleks, harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapi, baik lingkungan fisik maupun non fisik.

2. Goal Attainment (pencapaian tujuan)


Persyaratan ini sama sekali tidak sulit di mengerti. Setiap orang dalam tindakannya selalu mempunyai tujuan tertentu. Dimana tindakan itu diarahkan pada tujuannya, bukan tujuan pribadi, tetapi tujuan sistem atau tujuan bersama antara mereka yang termasuk dalam sistem interaksi itu..

3. Integration (integrasi)

menunjuk pada kebutuhan untuk menjamin ikatan emosionalmenghasilkan solidaritas dan kerelaan untuk bekerja sama. Dalam konsep ini yang penting adalah rasa solidaritas dan kekompakan. keadaan integrasi tercapai kalau bagian-bagian yang membentuknya sesuai dalam posisinya dalam satu keseluruhan.

4. Latent Pattern maintenance (pemeliharaan pola-pola yang laten)

Dihubungkan dengan sistem budaya karena menekan nilai dan norma budaya. Permasalahan mendasar yang berhubungan dengan persyaratan ini adalah menjawab pertanyaan berikut; Kalau sistem sosial itu menghadapi kemungkinan bahaya perpecahan karena anggota berjalan keluar dari rel, apa yang harus diperbuat oleh sistem itu? Jawabannya adalah bagaimana pola sistem itu mempertahankan diri dari kehancuran dan pola itu tidak kelihatan (Soeprapto,2002).

2. Paradigma Konflik

Perspektif konflik lahir akibat terjadi krisis sosial akibat muncul revolusi industri di Erop[a Barat. Marx melihat masyarakat Eropa Barattengah menghadap problem kesenjangan ekonomi yang sangat tinggi. Di satu pihak terjadi kemelaratan di kalangan para pekerja, sementara para penguasa ekonomi penuh dengan keserakahan. Karena itu tidak tercipta keadilan sosial. Gambaran ini menurut Marx memunculkan konflik kelas pekerja dengan pemilik modal.

Menurut Pendekatan konflik, masyarakat selalu dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus diantara unsur-unsurnya. Keteraturan yang terdapat dalam masyarakat hanyalah disebabkan karena adanya tekanan atau paksaan kekuasaan golongan berkuasa.

Asumsi Teori Konflik


Dalam melihat masyarakat, teori konflik ini memiliki asumsi dasar yang merupakan cara pandangnya terhadap masyarakat. Asumsi teori konflik itu adalah;
  • Perubahan merupakan gejala yang melekat pada setiap masyarakat.
  • Konflik adalah gejala yang selalu melekat di dalam setiap masyarakat
  • Setiap unsur dalam masyarakat memberikan bagi terjadinya disintegrasi dan perubahan sosial
  • Setiap masyarakat terintegrasi di atas penguasaan atau dominasi yang dilakukan oleh sejumlah orang terhadap sejumlah orang lainnya.

Teori konflik juga memiliki Proposisi Strategi konflik
  • Kehidupan sosial pada dasarnya merupakan arena konflik di antara dan di dalam kelompok-kelompok masyarakat yang bertentangan
  • Sumber-sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik merupakan hal yang penting yang diperebutkan oleh berbagai kelompok
  • Akibat tipikal dari konflik itu memunculkan pembagian masyarakat menjadi kelompok determinan secara ekonomi dan kelompok yang tersubordinasi 
  • Pola-pola sosial dasar suatu masyarakat sangat ditentukan oleh pengarus sosial dari kelompok yang secara ekonomi merupakan kelompok yang determinan
  • Kelompok dan konflik sosial di dalam dan di antara berbagai masyarakat melahirkan kekuatan-kekuatan yang menggerakan perubahan sosial
  • Karena konflik merupakan ciri dasar kehidupan sosial, maka perubahan sosial menjadi hal yang umum dan sering terjadi. 

Beberapa tokoh yang terkenal adalah
  1. Karl Marx
  2. Dahrendorf
  3. Lewis coser 

3. Paradigma interaksionisme Simbolik

Akar teori interaksionisme simbolik dari tiga pemikiran, yaitu;
  • Filsafat Pragmatisme (John Dewey) 
  • Behaviorisme psikologis (JB Watson) 
  • Pengaruh Sosiologi Simmelian 

Tokoh utama teori ini adalah George Herbert Mead

Tiga premis utama dalam teori interaksionisme simbolik;
  1. Manusia bertindak berdasarkan makna-makna 
  2. Makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain 
  3. Makna tersebut berkembang dan disempurnakan saat interaksi tersebut berlangsung. 
  • Terbentuknya masyarakat 
  • Menurut Mead masyarakat dibentuk dari individu-individu yang memiliki diri sendiri. Bahwa tindakan manusia merupakan konstruksi yang dibentuk oleh individu melalui dokumentasi dan interpretasi hal-hal penting di mana ia akan bertindak. Bahwa tindakan kelompok terdiri atas perpaduan dari tindakan-tindakan individu-individu. 
  • Pandangan Interaksionisme simbolik 

Menurut Charron
  1. Individu bukanlah kepribadian yang terstruktur dan konsisten, selalu berubah dan dinamis. 
  2. Masyarakat dan kelompok tidak di konseptualisasikan sebagai sesuatu yang statis, tetapi sesuatu yang dinamis berubah secara konstan melalui interaksi 
  3. Ciri individu memiliki pikiran sendiri dan diri sendiri. 
  4. Manusia mempunyai banyak diri sendiri, masing masing berhubungan dengan interaksi dimana dia terlibat
  5. Kebenaran, ide, sikap dan perspektif semua di konseptualisasi sebagai sebuah proses yang di nilai dan berubah oleh organisme berkaitan yang dia amati. Orang tidak dikondisikan untuk menguji kebenaran mereka. Kebenaran datang melalui interaksi dan berpindah melalui interaksi 

• Metode penelitian

Peneliti harus melakukan observasi secara langsung atau partisipasi dengan dua cara :

1. Eksplorasi sampai ke tingkat pemahaman yang menghasilkan sensitivizing concept. Seorang peneliti diharapkan dekat dengan obyek/subyek agar mampu mengenali dan memahamikonteks empiris yang sesungguhnya.

2. Melakukan inspeksi, dimana peneliti harus memeriksa data dengan cara menampilkan pembuktian empirisnya.
  • Tokoh Interaksionis Simbolik 
  • George Herbert Mead
  • Herbert Blumer

Sekian artikel tentang Macam-Macam Teori Sosiologi Menurut Para Ahli Beserta Contohnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Daftar Pustaka
  • Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi: Suatu Pengantar: Jakarta: Rajawali Pers
  • Maliki, Zainuddin, 2003, Narasi Agung; tiga teori hegemonik, Surabaya, Lembaga Pengkajian agama dan Masyarakat (LPAM)
  • Sunarto, kamanto, 2000, Pengantar Sosiologi, Jakarta, fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  • Ritzer, George, Modern Sociological Theory, Jakarta, Prenada Media, Terjemahan Alimandan.
  • Kartasapoetra, G, dan Widyaningsih, G,R, Teori sosiologi, Bandung, Armico
Blog Psikologi_
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Macam-Macam Teori Sosiologi Menurut Para Ahli Beserta Contoh