Tempatnya Belajar Ilmu Psikologi Secara Online

26 Desember 2016

Pengertian Institusi Sosial dan Tipe Institusi Sosial Menurut Para Ahli

Pengertian Institusi Sosial dan Tipe Institusi Sosial Menurut Para Ahli - Institusi sosial adalah sistem norma-norma dan hubungan-hubungan penyatuan nilai dan prosedur-prosedur tertentu untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Mahasiswa memahami beberapa institusi utama, yaitu institusi keluarga, pendidikan, politik, ekonomi dan agama.

Pengertian Institusi Sosial

Menurut Durkheim, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari institusi. Di Indonesia istilah institusi sosial biasanya diterjemahkan dengan istilah Lembaga Sosial, atau dibahasakan dengan pranata sosial. Pada sisi lain ada pula yang mengartikan social institution dengan institusi sosial. Namun kita disini memilih menggunakan istilah institusi sosial.

Para sosiolog mendefinisikan institusi sosial, Pendapat tersebut antara lain:

Paul Horton dan Chester L. Hunt
Institusi sosial adalah sistem norma-norma dan hubungan-hubungan penyatuan nilai dan prosedur-prosedur tertentu untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.

Peter L Berger
Lembaga sosial adalah prosedur yang menyebabkan perbuatan manusia ditekankan olehpola tertentu dan dipaksa bergerak sesuai dengan keinginan masyarakat.

Soerjono Soekanto
Lembaga sosial adalah himpunan norma berkisar dari segala tingkatan kebutuhan pokok manusia.

Pengertian Institusi Sosial dan Tipe Institusi Sosial Menurut Para Ahli_
image source: recoveryanswers.org
baca juga: Pengertian, Pola, dan Teori Modern Perubahan Sosial Menurut Para Ahli

Tipe-tipe Institusi Sosial

Menurut pendapat JL. Gillin and JP.Gillin, ada beberapa tipe institusi sosial sebagai berikut:

1. Tipe institusi sosial dilihat dari sudut perkembangannya
  1. Crescive institution atau lembaga paling primer, yaitu Suatu tipe institusi yang tumbuh tidak sengaja dan tumbuhnya berasal dari adat istiadat. Contoh; hak milik, bentuk-bentuk perkawinan, dan lumbung padi.
  2. Enacted institution, yaitu Tipe institusi yang dibentuk dengan sengaja dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang bersangkutan. Contoh institusi utang piutang, lembaga pendidikan dan lembaga perdagangan. Semuanya ini berakar dari kebiasaan-kebiasaan yang sistimatis dan diatur kemudian dituangkan institusi yang disahkan oleh pemerintah.

2. Tipe institusi sosial dilihat dari sudut nilai
  1. Basic institution, yaitu sebagai lembaga sosial yang paling penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertibdalam masyarakat. Contoh; institusi keluarga dan institusi agama.
  2. Subsidiary institution, yaitu institusi sosial yang dianggap kurang penting oleh sekelompok masyarakat tertentu, misalnya lembaga rekreasi dan lembaga olah raga.

3. Tipe institusi sosial dilihat dari sudut penerimaan oleh masyarakat.
  1. Aproved social institution, yaitu Tipe institusi ini merupakan lembaga-lembaga yang diterima oleh masyarakat karena dirasa memberi manfaat dan keuntungan serta sangat dibutuhkan misalnya lembaga agama, lembaga pendidikan, lembaga perdagangan, lembaga bantuan hukum dan lembaga penitipan anak danlembaga-lembaga swadaya masyarakat.
  2. Unproved - unsanctioned intitutio, yaitu tipe institusi ini ditolak oleh masyarakat secara umum sebab dianggap meresahkan dan merugikan masyarakat secara umum, misalnya gank persatuan perampok/ copet/ gali/momoli/ kumpul kebo/ kaum gay, lebian/ homo seks dan lembaga perakitan bom ilegal.

4. Tipe linstitusi sosial dilihat dari sudut penyebarannya.
  1. General institution, yaitu suatu institusi yang lahir atas dasar faktor penyebaran sehingga dikenal di seluruh dunia, misalnya institusi pemerintahan,institusi agama dan perserikatan bangsa-bangsa.
  2. Ristricted institution, yaitu isntitusi yang dikenal hanya terbatas pada suatu masyarakat atau Negara tertentu, misalnya lembaga adat, lembaga keyakinan/ aliran dan lembaga pemerintahan (khususnya pada sistemnya).

Tipe lembaga sosial dilihat dari sudut fungsinya.
Operative institution, institusi yang befungsi untuk menghimpun pola-pola atau cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya LSM, IMF, UMDB, dan lembaga industri.Regulated institution, yaitu institusi yang berfungsi mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang tidak mutlak manjadi bagian dari pada lemabaga tersebut. Contoh institusi hukum dan institusi verifikasi.

Kelima tipe institusi sosial di atas dapat mengetahui adanya bermacam-macam institusi kemasyarakatan dalam suatu masyarakat tertentu. Jadi setiap masyarakat mempunyai sistem nilai yang menentukan lembaga sosial mana yang dianggap paling atas dari lembaga-lembaga sosial lainnya. Semuanya tergantung dari masyarakat yang bersangkutan.

Institusi Utama

Berikut kita akan membahas beberapa institusi utama, yaitu institusi keluarga, pendidikan, politik, ekonomi dan agama.

Institusi Keluarga
Proses terbentuknya institusi keluarga adalah melalui pernikahan baik secara agama, adat dan hukum. Dimulai interaksi antara pria dan wanita. Interaksi berulang-ulang hingga terjadi proses perkawinan. Setelah perkawinan terbentuk keturunan kemudian keluarga inti.
Ada 3 bentuk keluarga;
  1. Keluarga inti (batih, somah, nuclear family) terdiri dari ayah, ibu dan anak-anakyang belum menikah.
  2. Keluarga besar (extended family) ikatan keluarga dalam satu keturunan, kakek, nenek, ipar, paman dsb.
  3. Keluarga poligamous, beberapa keluarga inti yang dipimpin oleh satu kepala keluarga.

Tujuan perkawinan yaitu
  1. Untuk mendapat keturunan
  2. Untuk meningkatkan derajat dan status sosial.
  3. Mendekatkan hubungan kekerabatan besar kedua mempelai
  4. Harta waris tidak jatuh kepada orang lain
Hikmah atau manfaat perkawinan
  1. a) Terpeliharanya kehormatan manusia bersusila.
  2. b) Menghubungkan tali persaudaraan dan memperbanyak keluarga.
  3. c) Keluarga dan masyarakat sejahtera.

Bentuk-bentuk perkawinan

a) Menurut jumlah suami dan istri
  1. Monogami merupakan perkawinan satu pria dan satu wanita.
  2. Poligami merupakan perkawinan yang beristri atau bersuami lebih dari satu orang.
    • Poligini; seorang laki-laki beristri lebih dari satu orang.
    • Poliandri; seorang wanita yang bersuami lebih dari satu orang.

b) Menurut asal suami dan istri
(1) Endogami ialah perkawinan dari lingkungan sendiri.
(2) Eksogami ialah perkawinan di luar lingkungan sendiri
  • Connubium circulation/ asymetris (sepihak), hubungan perkawinan dimana dua klan hanya mempunyai satu kedudukan sebagai pemberi atau penerima gadis.
  • Connubium symetris, hubungan perkawinan di mana dua klan saling tukar menukar pasangan.
  • Homogami, pernikahan dalam strata/ status sosial yang sama.
  • Heterogami, pernikahan antara dua keluarga yang berbeda lapisan sosialnya.

c) Menurut hubungan kekerabatan
  1. Cross cousin (sepupu silang), perkawinan antara saudara sepupu anak anaksaudara laki-laki ibu, anak saudara perempuan ayah.
  2. Paralel cousin (sepupu silang), perkawinan di mana ayah atau ibu merekabersaudara.
  3. d) Menurut pembayaran mas kawin.
Pada masyarakat tertentu, perkawinan disetujui keluarga wanita bila keluarga pria menyerahkan mas kawin. Pada masyarakat Manggarai (Flores) disebut belis. Pada beberapa daerah mas kawin juga menentukan prestise/ kehormatan kedua keluarga. Semakin tinggi angka atau jumlah mas kawin semakin tinggi prestise kedua keluarga di mata masyarakat.

Pola menetap sesudah perkawinan

Setiap daerah memiliki budaya sendiri terkait dengan tempat menetap setelah perkawinan.
  1. Patrilokal (Virilokal), suami istri bertempat tinggal di sekitar pusat kerabat suami.
  2. Matrilokal (otorilokal), suami istri tinggal di sekitar kerabat istri.
  3. Bilokal, menetap bergantian antara kerabat istri dan suami.
  4. Neolokal yaitu bertempat di tempat baru.
  5. Avunkulokal yaitu menetapdi rumah saudara laki-laki ibu (paman) dari pihak suami.
  6. Natalokal yaitu suami istri terpisah tinggal di tempat kelahiran masing-masing, bertemu dalam waktu yang relatif pendek.
  7. Utrolokal yaitu bebas menentukan tempat tinggal.
  8. Komonlokal yaitu tinggal didalam kelompok di mana kedua orang tua dari pihak laki dan perempuan berdiam.

Fungsi Keluarga

Sebagai sebuah institusi, keluarga mempunyai fungsi, ilmuan sosiologi seperti Horton dan Hunt (1984) mengidentifikasi beberapa hal
  • Fungsi perngaturan seks. Keluarga berfungsi untuk mengatur penyaluran dorongan seks. Tidak ada masyarakat yang membolehkan hubungan seks sebebas-bebasnya antara siapa saja dalam masyarakat.
  • Fungsi reproduksi, berupa pengembangan keturunan.
  • Fungsi sosialisasi, dimana keluarga mensosialisasikan anggota baru masyarakat sehingga dapat memerankan apa yang mesti dilakukannya di masyarakat.
  • Fungsi afeksi, dimana keluarga memberikan cinta kasih. Beberapa studi yang dilakukan membuktikan, seorang anak yang tidak mendapatkan cinta kasih biasanya melakukan tindakan menyimpang.
  • Fungsi ekonomi, dimana berjalannya proses produksi, distribusi dan konsumsi.
  • Fungsi status, dimana keluarga memberikan fungsi status kepada anak baik status terkait dengan jenis kelamin, urutan kelahiran, kekerabatan maupun status yang diperoleh orang tua seperti kelas social tertentu.

Susunan keluarga
Bentuk keluarga bilateral (cognatic Descent), menghitung hubungan keluarga melalui pihak ayah maupun ibu.
  • Prinsip ambilineal (operative descent), menghitung garis kerabat terkadang melalui ayah atau ibu.
  • Prinsip konsentris, menghitung garis keluarga sampai suatu jumlah tertentu (terbatas).
  • Prinsip primogenitus, menghitung garis keluarga melalui ayah dan ibu yang usianya tertua saja (sulung) untuk menentukan pembagian warisan keluarga.
  • Prinsip ultimogenitur, yaitu garis keluarga dihitung melalui ayah atau ibu yang usianya termuda saja (bungsu).

Bentuk keluarga unilateral (unilineal), hanya dihitung dari satu garis keturunan, ayah atau ibu.
  • Patrilineal yaitu garis keturunan dihitung dari garis ayah contohnya, Batak.
  • Matrilineal yaitu garis keturunan yang dihitung dari garis ibu contohnya, Minangkabau

Institusi Pendidikan

Pendidikan juga mendapat perhatian besar dari para sosiolog. Institusi pendidikan yang menjadi perhatian yaitu Pendidikan formal seperti sekolah, pendidikan non-formal seperti institusi kursus dan pendidikan informal seperti institusi keluarga.

Para ahli sosiologi banyak mengkaji masalah pendidikan membagi pokok bhasan mereka menjadi tiga bahasan yaitu secara makro, meso dan mikro. Makro sosiologi pendidikan membahas tentang hubungan institusi pendidikan dengan institusi lain dalam masyarakat. Pada tingkat meso sosiologi pendidikan membahas tentang hubungan dalam suatu organisasi pendidikan. Dan pada tingkat mikro sosiologi pendidikan mempelajari tentang interaksi yang berlangsung dalam institusi pendidikan.
Dalam hal makro, para sosiolog biasanya mempelajari kesalingterkaitan antara pendidikan dengan institusi lain seperti hubungan antara pendidikan dan politik; sampai sejauh mana sekolah dalam menjalankan perannya dalam proses sosialisasi politik. Contoh lain adalah kaitan dengan ekonomi, misalnya bagaimana sekolah berperan dalam mempersiapkan tenaga kerja siap pakai untuk sector formal dan lain-lain.

Dalam hal meso dan mikro sosiologi pendidikan antara lain mempelajari sekolah sebagai sistem social. Pada jenjang mesososiologi, seorang ahli biasanya mengkaji sekolah sebagai suatu organisasi. Dan pada jenjang mikro, biasanya seorang ahli mengkaji hubungan dan interaksi antara siswa misalnya pengelompokan diantara mereka atau system status yang terbentuk dan lain-lain.

Institusi politik

Institusi politik berupa perangkat aturan atau status yang menghususkan diri pada pelaksanaan kekuasaan dan wewenang. Institusi politik mengkaji hal-hal :

1) Bentuk Negara, secara umum dikenal bentuk negara;
  1. Negara kesatuan yaitu dengan satu kesatuan pemerintahan, parlemen, institusi peradilan dan konstitusi.
  2. Negara federasi / serikat yaitu adanya negara bagian yaitu negara yang memiliki undang-undang dan peradilan sendiri.

2) Bentuk Pemerintahan. Bentuk pemerintahan yang berkembang di dunia yaitu:
  1. Republik yaitu dipimpin oleh presiden yang memegang kekuasan eksekutif dan parlemen dengan kekuasan legislatif.
  2. Monarki yaitu dipimpin oleh raja/ ratu yang didapatkan berdasarkan keturunan dan diperoleh seumur hidup.
  3. Kekaisaran dipimpin seorang kaisar yang diperoleh secara turun temurun.
3) Bentuk kekuasaan, Menurut Weber birokrasi kekuasaan ada ddalam tiga bentuk ;
  1. Kewibawaan lahiriah (kharismatik) misalnya tokoh agama.
  2. Tradisi atau keturunan, misalnya raja.
  3. Secara formal (legal-rasional) berdasarkan hukum misalnya presiden.

Institusi Ekonomi

Dalam pembahasan mengenai sosiologi ekonomi, Durkheim, Weber, Marx dan lainnya sudah banyak membahas tentang perubahan masyarakat dari masyarakat tradisional ke masyarakat industri. Dalam masyarakat industry, proses ekonomi menjadi sangat penting. Belakangan, ahli sosiologi menilai bahwa pokok kajian sosiologi terhadap institusi ekonomi adalah institusi yang terlibat dalam produksi dan distribusi barang dan jasa dalam masyarakat.
Menurut Kornblum (dalam Sunarto, 2000) penelitian terhadap institusi ekonomi difokuskan pada pokok bahasan berikut, yaitu:
  • Pasar dan pembagian kerja
  • Interaksi antara pemerintah dengan institusi ekonomi
  • Perubahan pada pekerjaan
1) Pola-pola politik ekonomi
  1. Sistem feodalisme yaitu seperangkat lembaga politik dan ekonomi yang menempatkan pemilik tanah (raja) dan prajurit yang menjaga keamanan sebagai pelindung warga, harta benda dan hak penguna tanah.
  2. Sistem merkatilisme yaitu sistem yang menempatkan negara bertanggungjawab mengendalikan dan mengarahkan seluruh kegiatan ekonomi termasuk mengatur individu untuk profesi-profesi tertentu.
  3. Sistem kapitalisme yaitu pemilik modal bebas mengembangkan usahanya dan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
  4. Sistem komunisme yaitu partai tunggal atau diktator sebagai wakil rakyat yang memerintah atas nama rakyat.e) Sistem sosialisme yaitu bertujuan merombak masyarakat pada persamaan hak dan pembatasan hak milik pribadi untuk kesejahteraan masyarakat.

Institusi Agama

Durkherm (1966) menyatakan bahwa agama merupakan suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktek yang berhubungan dengan hal yang suci. Agama merupakan sarana manusia untuk berhubungan dengan sang pencipta.

Fungsi Agama

a) Fungsi Manifes
  • Sumber pedoman hidup manusia.
  • Mengatur hubungan (tata cara) manusia secara vertikal dan horizontal.
  • Nilai-nilai hidup manusia (ukuran).
  • Pedoman rasa kebersamaan.
  • Pedoman keyakinan (confidence).
  • Pedoman keberadaan (existence).
  • Pengungkapan estetika (keindahan).
  • Pedoman rekreasi dan hiburan.
  • Memberi identitas.

b) Fungsi laten
  • Saranauntuk kupul kebo, zina dan perjudian.
  • Dijadikan landasan aktivitas SARA atau peperangan.
  • Kedok untuk meminta bantuan di luar kepentingan agama.
Unsur-unsur institusi agama

Menurut Light, Killer dan Callhoun (1989).
  • Kepercayaan
  • Praktek keagamaan
  • Simbol keagamaan
  • Umat
  • Pengalaman keagamaan.

Sekian artikel tentang Pengertian Institusi Sosial dan Tipe Institusi Sosial Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi: Suatu Pengantar: Jakarta: Rajawali Pers
  • Sunarto, Kamanto, 2000, Pengantar Sosiologi, Jakarta, Lembaga Penerbit, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Blog Psikologi_
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pengertian Institusi Sosial dan Tipe Institusi Sosial Menurut Para Ahli